Saling Setia dan Saling Menjaga Hingga Akhir Hayat
Oleh KUA JATILAWANG
Banyumas – Kebahagiaan yang sederhana sering kali menjadi kebahagiaan yang paling menggetarkan hati. Begitulah suasana yang menyelimuti Desa Tinggarjaya ketika dua insan, Condro Junaidi dan Ai Maryam, mengikat janji suci dalam sebuah prosesi akad nikah yang berlangsung khidmat, penuh haru, dan sarat makna. Jum’at (05/06)
Prosesi pencatatan nikah dan ijab qabul tersebut dipimpin oleh Budi Susanto, Penghulu KUA Jatilawang, yang dengan penuh ketelitian dan tanggung jawab memastikan seluruh rangkaian berjalan sesuai syariat Islam dan ketentuan hukum yang berlaku. Di hadapan keluarga, para saksi, dan tamu yang hadir, sebuah babak baru kehidupan resmi dimulai.
Suasana sakral terasa sejak awal acara. Wajah-wajah penuh harapan tampak menghiasi ruangan. Senyum yang mengembang berpadu dengan mata yang berkaca-kaca. Hari itu bukan sekadar pertemuan dua insan, tetapi juga pertemuan dua keluarga yang dipersatukan oleh doa, cinta, dan harapan akan masa depan yang penuh keberkahan.
Ketika wali nikah mengucapkan lafaz ijab dengan suara yang bergetar menahan haru, suasana menjadi begitu hening. Semua perhatian tertuju kepada Condro Junaidi yang akan mengucapkan kabul. Dengan suara mantap dan penuh keyakinan, ia menjawab ijab tersebut dalam satu tarikan napas yang lancar. Seketika, gema ucapan syukur dan senyum bahagia memenuhi ruangan.
Bagi sebagian orang, akad nikah mungkin hanya berlangsung beberapa menit. Namun bagi kedua mempelai dan keluarga mereka, momen itu adalah puncak dari perjalanan panjang yang dipenuhi doa, penantian, perjuangan, dan harapan. Sebuah momen yang akan dikenang sepanjang hayat.
Budi Susanto menjelaskan bahwa pencatatan nikah merupakan bagian penting dalam memberikan kepastian hukum bagi pasangan yang menikah. Selain menjadi bukti sahnya pernikahan menurut negara, pencatatan nikah juga menjadi bentuk perlindungan terhadap hak-hak keluarga yang akan dibangun oleh kedua mempelai.
"Pernikahan adalah amanah yang besar. Semoga kedua mempelai mampu menjaga komitmen, memperkuat kasih sayang, dan saling mendukung dalam setiap langkah kehidupan. Rumah tangga yang bahagia lahir dari kesabaran, pengertian, dan ketulusan hati," ungkapnya.
Di balik prosesi yang berlangsung sederhana itu, tersimpan kisah yang begitu dalam. Ada orang tua yang selama bertahun-tahun membesarkan anak-anak mereka dengan penuh cinta dan pengorbanan. Ada doa-doa yang dipanjatkan dalam setiap sujud malam. Ada harapan yang tumbuh perlahan, hingga akhirnya bermuara pada hari yang membahagiakan ini.
Bagi seorang ayah, akad nikah adalah saat ketika amanah yang paling berharga diserahkan kepada orang lain. Bagi seorang ibu, akad nikah adalah hari ketika doa-doanya menemukan salah satu jawaban terindah. Dan bagi Condro Junaidi serta Ai Maryam, akad nikah adalah awal perjalanan baru untuk saling menjaga, saling menguatkan, dan saling mencintai dalam bingkai ibadah.
Desa Tinggarjaya pada hari itu menjadi saksi bahwa cinta sejati tidak selalu hadir dalam kemewahan. Ia tumbuh dalam kesederhanaan, berkembang dalam kesabaran, dan bersemi dalam ketulusan hati. Di sana, dua insan memulai perjalanan panjang yang akan mereka tempuh bersama, menghadapi suka dan duka dengan tangan yang saling menggenggam erat.
Semoga pernikahan Condro Junaidi dan Ai Maryam senantiasa dilimpahi rahmat dan keberkahan Allah SWT. Semoga rumah tangga yang mereka bangun menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah, tempat bernaungnya cinta yang tulus, tumbuhnya generasi yang saleh dan salehah, serta menjadi sumber kebahagiaan bagi keluarga dan lingkungan sekitarnya.
Karena sesungguhnya, pernikahan bukan hanya tentang dua hati yang dipersatukan dalam satu hari yang indah, melainkan tentang dua jiwa yang berjanji untuk saling setia dan saling menjaga hingga akhir hayat, dalam ridha Allah SWT.
