HUT RI #81

Bimwin Kepala KUA Jatilawang Kepada Catin : Hindari Kekerasan Seksual dan Emosional

KUA JATILAWANG
KUA JATILAWANG
16 Okt 2026
14x dibaca
Diubah oleh Adeliana pada 16-10-2026 17:15
SHARE

Jatilawang — Pernikahan bukan sekadar menyatukan dua insan dalam satu ikatan, melainkan perjalanan panjang untuk belajar memahami, menerima, dan menjaga satu sama lain. Di dalamnya, cinta tidak cukup hanya diucapkan, tetapi perlu dibuktikan melalui sikap yang menghormati, perkataan yang menenangkan, dan perilaku yang membuat pasangan merasa aman. Jumat (16/10)

Pesan itulah yang disampaikan Iskandar Zulkarnain, Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Jatilawang, Kabupaten Banyumas, saat memberikan Bimbingan Perkawinan (Bimwin) kepada calon pengantin, Ahus Riyanto dan Widi Murtitati. Dalam bimbingan tersebut, keduanya mendapatkan bekal tentang pentingnya menghindari kekerasan seksual dan emosional demi mewujudkan keluarga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah.

Bimbingan ini menjadi pengingat bahwa mempersiapkan pernikahan bukan hanya tentang busana, tempat, dan hari bahagia, tetapi juga tentang kesiapan hati untuk menjalani kehidupan bersama. Sebab, akad nikah mungkin berlangsung dalam hitungan menit, sedangkan amanah untuk saling menyayangi dan menghormati akan menyertai perjalanan hidup bertahun-tahun lamanya.

Dalam penyampaiannya, Iskandar Zulkarnain menjelaskan bahwa suami dan istri memiliki kedudukan yang harus dihormati sebagai pasangan hidup. Ikatan pernikahan bukanlah alasan untuk menguasai kehendak pasangan, melainkan kesempatan untuk membangun hubungan yang dilandasi kepercayaan, tanggung jawab, dan kepedulian.

Kekerasan seksual, termasuk pemaksaan hubungan intim, merupakan persoalan serius yang bertentangan dengan prinsip penghormatan terhadap martabat manusia. Hubungan suami istri seharusnya dibangun melalui komunikasi yang terbuka, perhatian terhadap kondisi fisik dan emosional, serta penghormatan terhadap persetujuan dan batas pribadi masing-masing.

Pasangan perlu belajar memahami bahwa kasih sayang tidak selalu diwujudkan melalui tuntutan, tetapi juga melalui kesediaan mendengarkan dan menghargai keadaan satu sama lain.

“Cinta sejati bukan tentang seberapa besar seseorang dapat menguasai pasangannya, melainkan seberapa tulus ia menjaga perasaan, kehormatan, dan keselamatan orang yang dicintainya,” demikian pesan yang ditekankan dalam bimbingan tersebut.

Selain aspek fisik, Iskandar juga mengajak kedua calon pengantin memahami pentingnya menjaga kesehatan emosional dalam rumah tangga. Luka batin terkadang tidak terlihat oleh mata, tetapi dapat meninggalkan kesedihan yang panjang apabila seseorang terus-menerus direndahkan, dihina, diancam, atau dipermalukan oleh pasangan.

Karena itu, komunikasi yang sehat perlu dibangun sejak awal pernikahan. Ketika terjadi perbedaan pendapat, pasangan hendaknya menyampaikan keberatan dengan bahasa yang santun, menghindari ucapan yang merendahkan, dan memberi kesempatan satu sama lain untuk menjelaskan perasaan.

Meminta maaf bukanlah tanda kelemahan, sebagaimana mengakui kesalahan bukan berarti kehilangan harga diri. Justru, kesediaan memperbaiki diri menunjukkan kedewasaan dalam membangun hubungan.

Rumah tangga yang harmonis bukan rumah yang tidak pernah menghadapi masalah, melainkan rumah yang menjadikan masalah sebagai kesempatan untuk belajar memahami satu sama lain.

Bayangkan betapa berharganya sebuah rumah ketika suami dapat pulang tanpa takut disalahkan, istri dapat menyampaikan isi hatinya tanpa khawatir direndahkan, dan keduanya dapat berbicara dari hati ke hati tanpa harus memenangkan pertengkaran.

Di sanalah rumah menjadi tempat beristirahat, bukan hanya bagi tubuh yang lelah, tetapi juga bagi jiwa yang membutuhkan ketenteraman.

Dalam perspektif Islam, Iskandar mengingatkan bahwa pernikahan merupakan ikatan yang mengandung amanah dan tanggung jawab. Allah SWT berfirman dalam Surah Ar-Rum ayat 21 tentang penciptaan pasangan agar manusia memperoleh ketenteraman, serta dianugerahi kasih sayang dan rahmat di antara mereka.

Nilai sakinah, mawaddah, wa rahmah hendaknya diwujudkan melalui kebiasaan sederhana: saling menghargai, berbagi tanggung jawab, menjaga kepercayaan, serta mendampingi pasangan ketika menghadapi kesulitan.

Ahus Riyanto dan Widi Murtitati diharapkan mampu menjadikan nilai-nilai agama sebagai pedoman dalam mengambil keputusan dan menyelesaikan persoalan rumah tangga. Apabila menghadapi masalah yang sulit diselesaikan berdua, keduanya juga perlu terbuka untuk mencari nasihat dari pihak tepercaya atau tenaga profesional.

Melalui Bimbingan Perkawinan ini, KUA Jatilawang berupaya membekali calon pengantin agar lebih siap menjalani kehidupan berkeluarga, bukan hanya secara administratif, tetapi juga secara mental, emosional, dan spiritual.

Kelak, ketika usia pernikahan semakin panjang dan rambut mulai memutih, kebahagiaan mungkin tidak lagi hadir dalam bentuk hadiah mahal atau perjalanan istimewa. Barangkali, ia menjelma menjadi secangkir teh yang disiapkan dengan penuh perhatian, pertanyaan sederhana tentang kesehatan, atau genggaman tangan yang menguatkan ketika salah satu mulai kehilangan tenaga.

Pada masa itulah, pasangan akan menyadari bahwa cinta yang paling berharga bukanlah cinta yang selalu menggebu-gebu, melainkan cinta yang tetap hadir ketika keadaan berubah dan kehidupan tidak selalu mudah.

Pesan Bimbingan Perkawinan ini menjadi pengingat bahwa pernikahan yang kokoh dibangun melalui kesediaan untuk terus belajar, memperbaiki diri, dan menjaga kehormatan pasangan. Kebahagiaan keluarga tidak semata-mata diukur dari banyaknya harta, tetapi juga dari ketenteraman yang dirasakan setiap anggota keluarga di dalam rumahnya.

Semoga Ahus Riyanto dan Widi Murtitati dapat menapaki kehidupan rumah tangga dengan hati yang lapang, komunikasi yang sehat, dan kasih sayang yang senantiasa tumbuh. Semoga rumah mereka kelak menjadi tempat paling nyaman untuk pulang, tempat setiap kesedihan menemukan penghiburan, dan tempat anak-anak belajar tentang arti cinta melalui keteladanan orang tuanya.

Sebab, cinta yang paling indah bukanlah cinta yang membuat seseorang takut kehilangan, melainkan cinta yang membuat keduanya merasa aman untuk tumbuh bersama, saling memuliakan, dan menua dalam ketenteraman.