Penyuluh KUA Jatilawang Khotbah di Masjid Kankemenag Banyumas : Cinta Orang Tua, Ibadah Sepanjang Usia
Banyumas — Kasih sayang orang tua adalah doa yang tidak selalu terdengar, pengorbanan yang kerap tidak terlihat, dan cinta yang tetap menyala meski tubuh kian renta. Dari tangan merekalah seorang anak belajar mengenal dunia, dan dari ketulusan merekalah kehidupan menemukan maknanya. Jumat (16/10)
Pesan penuh makna tersebut mengemuka dalam khutbah Jumat yang disampaikan oleh Muhammad Taubah, Penyuluh Agama Islam KUA Jatilawang, yang bertugas sebagai khatib sekaligus imam salat Jumat di Masjid Al Ikhlas, Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyumas. Mengangkat tema “Keikhlasan Orang Tua Mendidik dan Merawat Anak-anaknya”, ia mengajak jemaah merenungkan betapa agungnya pengorbanan orang tua dalam membesarkan generasi penerus.
Dalam khutbahnya, Muhammad Taubah mengingatkan bahwa mendidik dan merawat anak bukan sekadar kewajiban biologis, melainkan amanah besar yang menuntut kesabaran, keikhlasan, dan cinta tanpa syarat. Orang tua rela mengurangi waktu istirahat demi menemani anak yang sakit, menahan lelah untuk memenuhi kebutuhan keluarga, bahkan menyembunyikan kesedihan agar anak-anaknya tetap tumbuh dengan penuh harapan.
“Orang tua sering kali menangis dalam diam agar anaknya dapat tersenyum. Mereka rela berjalan dalam terik dan hujan, asalkan anak-anaknya memiliki masa depan yang lebih baik. Betapa banyak keinginan pribadi yang mereka kubur demi satu harapan sederhana: melihat anaknya tumbuh menjadi manusia yang saleh, berakhlak mulia, dan bermanfaat bagi sesama,” demikian pesan yang ditekankan dalam khutbah tersebut.
Muhammad Taubah menjelaskan bahwa keikhlasan orang tua tidak cukup diwujudkan melalui pemenuhan kebutuhan materi. Anak juga membutuhkan perhatian, pelukan, nasihat yang lembut, keteladanan, serta doa yang tidak pernah putus. Rumah semestinya menjadi tempat pertama seorang anak belajar tentang kejujuran, tanggung jawab, kasih sayang, dan kedekatan kepada Allah SWT.
Menurutnya, keberhasilan mendidik anak tidak selalu diukur dari tingginya nilai akademik, banyaknya harta, atau tingginya kedudukan ketika dewasa. Ada keberhasilan yang jauh lebih berharga, yakni ketika seorang anak memiliki hati yang lembut, menghormati orang lain, menjaga ibadah, dan tetap mengingat orang tuanya dalam keadaan lapang maupun sempit.
Dalam kesempatan tersebut, ia juga mengajak para orang tua untuk tidak menjadikan kemarahan sebagai bahasa utama dalam mendidik anak. Teguran memang diperlukan, tetapi hendaknya disampaikan dengan kebijaksanaan. Disiplin tetap harus ditegakkan, namun jangan sampai meruntuhkan harga diri dan memadamkan keberanian anak untuk belajar.
Anak-anak bukanlah manusia dewasa dalam tubuh yang lebih kecil. Mereka sedang bertumbuh, belajar memahami kehidupan, dan sesekali melakukan kesalahan. Karena itu, orang tua perlu hadir bukan hanya sebagai pemberi perintah, melainkan juga sebagai pendengar, sahabat, sekaligus teladan yang menuntun mereka menuju kebaikan.
Bagian paling menyentuh dari pesan khutbah tersebut adalah ajakan untuk mengingat perjalanan waktu. Anak yang dahulu digendong dengan penuh kasih suatu hari akan tumbuh dewasa. Sementara itu, tangan yang dahulu menyuapinya perlahan dapat menjadi gemetar, langkah yang dahulu mengantarnya ke sekolah mulai melemah, dan mata yang dahulu selalu mengawasinya mungkin semakin redup dimakan usia.
Di saat itulah kehidupan seolah membalikkan peran. Orang tua yang dahulu memandikan anaknya mungkin kelak membutuhkan bantuan untuk membersihkan dirinya sendiri. Mereka yang dahulu terjaga sepanjang malam ketika anak demam mungkin suatu hari menunggu kabar dari anaknya dengan tubuh yang tak lagi kuat.
“Jangan sampai kita terlalu sibuk mengejar dunia hingga lupa bahwa ada orang tua yang menua dalam penantian. Jangan menunggu mereka tiada untuk menyadari betapa berharganya kehadiran mereka. Sebab, ketika pintu rumah orang tua telah tertutup untuk selamanya, tidak ada kekayaan yang mampu membeli kesempatan untuk sekali lagi mencium tangan mereka dan mendengar suara mereka memanggil nama kita,” menjadi pesan reflektif yang sejalan dengan tema khutbah tersebut.
Pesan itu mengingatkan jemaah bahwa berbakti kepada orang tua bukan hanya tentang memberikan uang atau memenuhi kebutuhan hidup mereka. Berbakti juga berarti meluangkan waktu, mendengarkan cerita yang mungkin telah berulang kali disampaikan, menjaga perasaan mereka, serta memperlakukan mereka dengan hormat sekalipun usia dan keadaan telah berubah.
Muhammad Taubah mengajak jemaah untuk menjadikan keluarga sebagai ladang amal yang dirawat dengan kesabaran. Orang tua hendaknya terus mendidik anak dengan keikhlasan, sedangkan anak-anak hendaknya membalas pengorbanan itu dengan bakti, penghormatan, dan doa. Bagi mereka yang orang tuanya telah berpulang, bakti tetap dapat diteruskan melalui doa, amal saleh, dan menjaga kebaikan yang pernah diajarkan.
Khutbah Jumat tersebut menjadi pengingat bahwa usia manusia terbatas, tetapi kebaikan yang ditanamkan dengan tulus dapat terus hidup melampaui usia. Anak yang dibesarkan dengan kasih sayang dan nilai-nilai agama diharapkan tumbuh menjadi pribadi yang membawa manfaat bagi keluarga, masyarakat, bangsa, dan agama.
Pada akhirnya, tidak semua pengorbanan orang tua tercatat dalam sejarah. Sebagian hanya tersimpan dalam kenangan keluarga, dalam bekas lelah di wajah mereka, dan dalam doa-doa yang diam-diam mereka panjatkan setiap malam.
Namun, di hadapan Allah SWT, tidak ada ketulusan yang sia-sia. Setiap kesabaran dalam mendidik, setiap pengorbanan dalam merawat, dan setiap doa yang dipanjatkan demi kebaikan anak merupakan bagian dari ikhtiar mulia yang semoga mendatangkan pahala dan keberkahan.
Sebab, cinta orang tua tidak pernah meminta balasan yang berlebihan. Mereka hanya berharap anak-anaknya tumbuh menjadi manusia yang baik. Dan ketika rambut mereka mulai memutih, semoga masih ada tangan-tangan anak yang menggenggam jemari mereka, suara lembut yang menenangkan hati mereka, serta doa yang tak pernah berhenti mengiringi hari-hari mereka.
Semoga Allah SWT melimpahkan rahmat kepada setiap orang tua yang masih membersamai anak-anaknya, mengampuni mereka yang telah mendahului kita, serta menjadikan generasi penerus sebagai anak-anak saleh dan salehah yang tidak pernah melupakan jalan pulang menuju kasih sayang orang tuanya. Aamiin ya Rabbal ‘alamin.
