HUT RI #81

Kolaborasi Lintas Agama dan Pencinta Alam Rawat Mata Air Pegunungan

P
Pokjaluh
16 Okt 2026
99x dibaca
Diubah oleh yudi pada 16-10-2026 16:36
SHARE

Banyumas - Sebuah langkah nyata dalam menjaga kelestarian lingkungan ditunjukkan melalui aksi kolaborasi ekoteologi yang berlangsung di kawasan lereng pegunungan Desa Wlahar, Kecamatan Wangon. Kegiatan ini menghadirkan sinergi yang hangat antara penyuluh agama lintas iman, tokoh adat lokal, serta komunitas pencinta alam. Mereka berkumpul dalam satu semangat yang sama, berdiskusi sekaligus turun langsung merawat dan mengonservasi sumber mata air pegunungan yang menjadi nadi kehidupan masyarakat sekitar. Jumat (16/10)

Isu krisis air bersih dan penurunan debit mata air akibat perubahan iklim serta alih fungsi lahan menjadi pemantik utama digelarnya dialog interaktif ini. Para peserta menggarisbawahi bahwa ajaran agama dan kearifan lokal sesungguhnya berjalan selaras dalam memandang alam. Melindungi lingkungan bukan sekadar wacana ekologis, melainkan bagian dari bentuk ibadah dan penghormatan terhadap nilai-nilai spiritual serta tradisi luhur yang diwariskan secara turun-temurun.

Keteguhan dalam menjaga tradisi pelestarian ini ditegaskan oleh Rakun, tokoh adat Pekodokan, Pereng, Desa Wlahar. Ia menyampaikan pentingnya merawat warisan leluhur yang senantiasa mengajarkan harmoni dengan alam sekitar. "Mata air di pegunungan ini adalah sumber kehidupan bersama yang diserahkan leluhur kepada kita. Menjaga mata air bukan cuma tugas fisik, tapi komitmen moral dan adat agar anak cucu kita kelak tidak meratapi kekeringan," ungkap Rakun penuh penekanan.

Dari perspektif keagamaan, Joharulloh, S.H., Penyuluh Agama Islam KUA Wangon, turut menegaskan bahwa nilai-nilai ajaran agama memberikan landasan moral yang sangat kuat untuk menjaga keseimbangan ekosistem. "Dalam pandangan Islam maupun ajaran agama lainnya, alam adalah amanah. Merawat mata air merupakan bentuk nyata dari ajaran agama yang membawa rahmat bagi semesta alam (rahmatan lil 'alamin). Ketika iman dan kearifan lokal bersatu, gerakan konservasi akan jauh lebih kokoh," tutur Joharulloh.

Aksi kolaboratif ini ditutup dengan penanaman pohon konservasi di sekitar area resapan air serta pembentukan forum komunikasi berkelanjutan antara penyuluh agama, tokoh adat, dan pencinta alam. Melalui kegiatan ini, seluruh pihak berkomitmen untuk menjadikan kawasan mata air pegunungan di Desa Wlahar sebagai daerah tangkapan air yang terlindungi, sekaligus menjadi contoh nyata bagaimana perbedaan keyakinan dapat menyatu dalam aksi menjaga alam. (jhr/tum)