HUT RI #81

Napas Boleh Sesak, tetapi Hati Tak Pernah Lelah Bersujud

KUA JATILAWANG
KUA JATILAWANG
13 Okt 2026
6x dibaca
Diubah oleh Adeliana pada 13-10-2026 15:32
SHARE

Banyumas — Di sebuah ruang perawatan Puskesmas Jatilawang, ketika tubuh tak lagi leluasa bergerak dan napas harus diperjuangkan di antara sesak penyakit asma, Nenek Kawisem menyimpan sebuah keteguhan yang menggetarkan hati. Di tengah sakit yang membatasi langkahnya, ia tetap berusaha menunaikan salat, dengan bimbingan Penyuluh Agama Islam Kantor Urusan Agama (KUA) Jatilawang, melalui tayamum sebagai pengganti wudu ketika air tidak dapat digunakan sesuai ketentuan syariat. Selasa (13/10)

Bagi sebagian orang, sakit mungkin menjadi alasan untuk berhenti sejenak dari berbagai aktivitas. Namun, bagi Nenek Kawisem, sakit justru menjadi ruang sunyi untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT. Tubuhnya boleh terbaring, napasnya boleh tersengal, tetapi kerinduannya untuk menghadap Sang Pencipta tidak serta-merta padam.

Di balik selimut perawatan, di antara suara langkah petugas kesehatan dan kesibukan pelayanan medis, tersimpan sebuah pemandangan sederhana yang sarat makna: seorang nenek yang berusaha menjaga salatnya, meski raga sedang tidak baik-baik saja.

Usia yang semakin senja sering kali membawa seseorang pada berbagai keterbatasan. Sendi tak lagi sekuat dahulu, langkah tak lagi seleluasa masa muda, dan penyakit terkadang datang tanpa mengetuk pintu. Namun, ada sesuatu yang tidak selalu bisa direnggut oleh keadaan, yakni keyakinan yang tumbuh kuat di dalam hati.

Nenek Kawisem menunjukkan bahwa ibadah bukan semata-mata tentang tubuh yang sehat, tempat yang lapang, atau keadaan yang sempurna. Ibadah juga merupakan tentang kesungguhan hati untuk tetap mengingat Allah dalam keadaan apa pun, selama masih mampu melaksanakannya sesuai tuntunan agama.

Di tengah perawatan akibat asma, ia tetap berupaya menunaikan salat dengan cara yang sesuai dengan kemampuannya. Ketika penggunaan air tidak memungkinkan atau dikhawatirkan membahayakan kondisi kesehatannya, tayamum menjadi salah satu bentuk kemudahan yang diberikan Islam kepada umatnya.

Sebab, Allah tidak menghendaki kesulitan bagi hamba-Nya. Dalam Surah Al-Baqarah ayat 185, Allah SWT berfirman bahwa Dia menghendaki kemudahan bagi manusia dan tidak menghendaki kesukaran bagi mereka.

Ayat itu seakan menghadirkan kesejukan di tengah ruang perawatan: bahwa dalam agama, keterbatasan bukanlah pintu tertutup untuk beribadah. Selalu ada jalan yang dibenarkan syariat bagi mereka yang ingin tetap mendekat kepada-Nya.

Melihat kondisi Nenek Kawisem, Penyuluh Agama Islam KUA Jatilawang memberikan bimbingan mengenai pelaksanaan tayamum dan salat bagi orang yang sedang sakit. Bimbingan tersebut bukan sekadar menyampaikan tata cara bersuci, melainkan juga menghadirkan penguatan rohani agar orang yang sedang menghadapi ujian kesehatan tidak merasa jauh dari rahmat Allah SWT.

Dalam pelayanan seperti ini, penyuluhan agama menemukan maknanya yang paling manusiawi. Agama tidak hanya disampaikan dari mimbar ke mimbar, atau dibicarakan dalam ruang-ruang pengajian, tetapi juga dihadirkan di tempat seseorang sedang berjuang memulihkan kesehatannya.

Penyuluh Agama hadir untuk mengingatkan bahwa orang yang sakit tetap memiliki kesempatan untuk beribadah. Jika tidak mampu berdiri, salat dapat dilakukan dengan duduk. Jika tidak mampu duduk, dapat dilakukan dengan berbaring sesuai kemampuan dan ketentuan fikih. Jika bersuci menggunakan air tidak memungkinkan karena alasan syar'i, tayamum dapat menjadi jalan untuk tetap melaksanakan ibadah.

Tentu, pelaksanaannya perlu menyesuaikan kondisi medis dan kemampuan pasien. Keselamatan serta anjuran tenaga kesehatan tetap harus diperhatikan. Islam tidak memerintahkan seseorang memaksakan diri hingga membahayakan tubuhnya.

Di situlah keindahan ajaran Islam bertemu dengan kelembutan pelayanan: bukan memaksa orang yang lemah untuk menjadi kuat seketika, melainkan menuntunnya menemukan cara beribadah yang sesuai dengan keadaan.

Barangkali, bagi orang yang sehat, melaksanakan salat merupakan rutinitas yang sering terasa biasa. Azan terdengar, air wudu mengalir, sajadah dibentangkan, lalu ibadah ditunaikan. Namun, bagi seseorang yang sedang sakit, setiap gerakan bisa membutuhkan tenaga, dan setiap tarikan napas dapat menjadi perjuangan tersendiri.

Karena itu, ikhtiar Nenek Kawisem untuk tetap salat mengandung pelajaran yang dalam. Keteguhannya mengajak kita bertanya kepada diri sendiri: ketika tubuh masih sehat, apakah kita telah menjaga ibadah dengan sebaik-baiknya? Ketika kaki masih kuat melangkah, apakah kita masih sering menunda memenuhi panggilan-Nya?

Kisah ini bukan tentang siapa yang paling kuat menahan sakit. Bukan pula tentang mengagungkan penderitaan. Ini adalah pengingat bahwa dalam keadaan sulit sekalipun, manusia tetap dapat menemukan harapan melalui doa, kesabaran, dan keyakinan kepada Allah SWT.

Ada kalanya seseorang tidak mampu mengungkapkan seluruh isi hatinya dengan kata-kata. Namun, ketulusan dalam beribadah dapat menjadi bahasa yang tak membutuhkan banyak suara. Di ruang perawatan itu, usaha Nenek Kawisem menjaga salat menjadi pengingat bahwa hubungan seorang hamba dengan Tuhannya tidak semestinya diukur dari sempurnanya keadaan fisik, melainkan dari kesungguhan menjalankan ibadah sesuai kemampuan dan tuntunan agama.

Pelayanan Agama yang Menyentuh Sisi Kemanusiaan

Bimbingan kepada Nenek Kawisem juga mencerminkan pentingnya kehadiran Penyuluh Agama Islam di tengah masyarakat, termasuk bagi warga yang sedang menjalani perawatan kesehatan. Pendampingan rohani merupakan bagian dari upaya menghadirkan pelayanan keagamaan yang dekat, ramah, dan memperhatikan kebutuhan nyata umat.

Bagi KUA Jatilawang, pelayanan keagamaan bukan hanya berkaitan dengan urusan administrasi pernikahan, bimbingan keluarga, atau kegiatan penyuluhan di masjid dan majelis taklim. Pelayanan itu juga dapat hadir ketika seorang warga membutuhkan penjelasan mengenai ibadah dalam kondisi sakit, ketika keluarga membutuhkan penguatan, atau ketika seseorang memerlukan pengingat bahwa dirinya tidak sendirian menghadapi ujian kehidupan.

Melalui bimbingan yang tepat, penyuluh membantu masyarakat memahami bahwa syariat Islam memiliki ketentuan yang memperhatikan kemampuan manusia. Dengan demikian, orang yang sedang sakit tidak perlu merasa bahwa keterbatasan fisiknya menutup seluruh jalan menuju ibadah.

Di tengah pelayanan kesehatan yang berfokus pada pemulihan jasmani, pendampingan rohani dapat menjadi ikhtiar untuk menumbuhkan ketenangan batin. Keduanya berjalan dengan peran masing-masing: tenaga kesehatan menangani aspek medis, sedangkan penyuluh memberikan bimbingan keagamaan sesuai kebutuhan pasien.

Sebuah Pelajaran untuk Kita yang Masih Diberi Sehat

Kisah Nenek Kawisem membawa pesan sederhana, tetapi mengetuk pintu hati siapa saja: jangan menunggu sakit untuk kembali mengingat Allah. Jangan menunggu tubuh kehilangan kekuatan untuk menyadari betapa berharganya kesempatan bersujud.

Hari ini, mungkin kita masih bisa berjalan menuju masjid, berdiri tegak dalam salat, dan mengambil air wudu tanpa kesulitan. Namun, tak seorang pun mengetahui bagaimana keadaan dirinya pada hari esok. Kesehatan adalah amanah, waktu adalah kesempatan, dan ibadah adalah jalan untuk merawat hubungan dengan Sang Pemberi kehidupan.

Semoga ikhtiar Nenek Kawisem menjadi pengingat bagi kita semua agar lebih menghargai nikmat sehat, lebih lembut kepada orang yang sedang sakit, dan lebih bijaksana dalam memahami kemudahan yang diberikan agama.

Sebab, pada akhirnya, yang paling berharga bukanlah seberapa gagah tubuh kita berdiri di hadapan dunia, melainkan seberapa tulus hati kita menghadap Allah SWT.

Dan dari ruang perawatan Puskesmas Jatilawang, kita belajar satu hal yang sederhana sekaligus mendalam: napas yang sedang sesak tidak harus memadamkan doa, tubuh yang sedang lemah tidak harus memutus ibadah, dan sakit yang membatasi langkah tidak harus menjauhkan hati dari Allah.

Semoga Allah SWT memberikan kesembuhan kepada Nenek Kawisem, melapangkan hatinya, menguatkan keluarganya, serta melimpahkan pahala atas setiap ikhtiar ibadah yang dilakukannya. Amin ya Rabbal ‘alamin.