HUT RI #81

Wirid Thariqah Qadiriyah di PP Al-Jazuli 2, Menguatkan Dzikir dan Semangat Aswaja

Oleh KUA Sokaraja
SHARE

Sokaraja — Suasana khidmat menyelimuti PP Al-Jazuli 2, Karangduren, Sokaraja, saat jamaah mengikuti wadifah wirid Thariqah Qadiriyah. Kegiatan tersebut menjadi ruang untuk menenangkan hati, memperkuat silaturahmi, sekaligus memperdalam pemahaman keislaman dalam tradisi Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja). Selasa (06/10)

Kegiatan diikuti jamaah dan jajaran pengurus harian MWC NU Sokaraja. Mereka duduk bersama dalam suasana sederhana, mengikuti rangkaian wirid dengan penuh ketenangan dan penghormatan. Majelis seperti ini menjadi pengingat bahwa kesibukan kehidupan perlu diimbangi dengan waktu untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Penyuluh Agama Islam KUA Sokaraja, Muhamad Nuh, turut hadir dalam kegiatan tersebut. Kehadirannya menjadi bagian dari khidmat penyuluhan dan pendampingan keagamaan di tengah masyarakat. Selain mengikuti kegiatan, penyuluh juga menjadi bagian dalam bincang ke-Aswaja-an bersama jamaah.

Bincang ke-Aswaja-an menjadi ruang untuk kembali memahami bahwa tradisi keagamaan tidak hanya diwariskan, tetapi juga perlu dipahami dengan ilmu. Wirid, dzikir, pengajian, dan silaturahmi menjadi rangkaian yang saling menguatkan, sehingga keberagamaan tidak berhenti pada ritual, tetapi dapat membentuk akhlak dan perilaku sehari-hari.

“Dzikir menenangkan hati, ilmu memberikan arah, dan silaturahmi menguatkan langkah.”

Di tengah kehidupan yang semakin cepat, majelis seperti ini memiliki makna yang sederhana tetapi dalam. Jamaah diajak untuk tidak hanya mengejar kesibukan dunia, tetapi juga menyediakan ruang bagi hati untuk kembali mengingat Allah.

Bagi pengurus MWC NU Sokaraja, kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari menjaga tradisi keilmuan dan amaliyah yang telah tumbuh di tengah masyarakat. Khidmat kepada umat bukan hanya tentang menjalankan organisasi, tetapi juga menjaga majelis ilmu, merawat ukhuwah, dan menghadirkan ketenangan bagi masyarakat.

Dari wirid yang dilantunkan bersama, tumbuh sebuah pesan: perubahan diri tidak selalu dimulai dengan sesuatu yang besar. Kadang ia dimulai dari istiqamah menghadiri majelis, membiasakan dzikir, belajar memahami agama, dan menjaga hubungan baik dengan sesama.

PP Al-Jazuli 2 Karangduren menjadi salah satu ruang tempat tradisi itu terus dirawat. Semoga setiap wirid menjadi penenang hati, setiap ilmu menjadi penerang jalan, dan setiap silaturahmi menjadi sebab semakin kuatnya ukhuwah dan khidmat kepada umat.

Karena hati yang dekat dengan Allah akan lebih tenang, ilmu yang diamalkan akan lebih bermanfaat, dan kebersamaan yang dijaga akan melahirkan kekuatan.