Penyuluh KUA Wangon Ikut Aktif Ikuti Majelis Taklim untuk Menambah Ilmu Keagamaan
Wangon – Syarif, Penyuluh Agama Islam KUA Wangon, mengikuti kegiatan majelis taklim di wilayah binaannya sebagai upaya menambah wawasan dan memperdalam ilmu keagamaan. Keikutsertaan tersebut merupakan bentuk semangat belajar sepanjang hayat sekaligus komitmen untuk meningkatkan kualitas diri sebagai penyuluh agama. Melalui majelis taklim, Syarif berkesempatan memperluas pemahaman keislaman, mempererat silaturahmi, serta membangun kedekatan dengan masyarakat di lingkungan tugasnya. Senin (12/10)
Majelis taklim menjadi salah satu sarana pendidikan nonformal bagi umat Islam untuk mempelajari ajaran agama, memperkuat keimanan, dan meningkatkan kualitas ibadah. Dalam kegiatan tersebut, jamaah dapat saling berbagi pengetahuan, mendengarkan nasihat keagamaan, serta mengambil hikmah dari materi yang disampaikan. Bagi seorang penyuluh agama, kegiatan ini juga menjadi kesempatan untuk terus belajar dan memahami kebutuhan pembinaan keagamaan masyarakat secara lebih dekat.
Syarif menyampaikan bahwa mengikuti majelis taklim merupakan bagian penting dari ikhtiar meningkatkan kapasitas keilmuan dan memperkuat bekal dalam menjalankan tugas penyuluhan. “Seorang penyuluh agama harus terus belajar dan memperdalam ilmu agar dapat memberikan bimbingan yang baik kepada masyarakat. Dengan mengikuti majelis taklim, saya berharap memperoleh tambahan wawasan, memperkuat pemahaman agama, dan dapat mengamalkan ilmu yang diperoleh dalam kehidupan sehari-hari,” ungkap Syarif.
Para Penyuluh Agama Islam KUA Wangon turut mendukung kebiasaan belajar dan berpartisipasi dalam kegiatan keagamaan di wilayah masing-masing. Penguatan ilmu dan pemahaman keislaman dinilai penting agar penyuluh mampu menjalankan perannya secara optimal, baik melalui bimbingan majelis taklim, konsultasi keagamaan, pembinaan keluarga, maupun kegiatan dakwah lainnya. Kehadiran penyuluh di tengah masyarakat juga diharapkan dapat memperkuat semangat kebersamaan dan mendorong tumbuhnya budaya belajar agama secara berkelanjutan.
Melalui keikutsertaan dalam majelis taklim, Syarif menunjukkan bahwa tugas penyuluh agama tidak hanya menyampaikan ilmu, tetapi juga terus belajar, memperbaiki diri, dan meneladani semangat menuntut ilmu. KUA Wangon berharap kegiatan semacam ini dapat memperkuat sinergi antara penyuluh dan masyarakat dalam membangun kehidupan beragama yang harmonis, berakhlak mulia, dan berlandaskan nilai-nilai Islam. Dengan ilmu yang terus bertambah dan pengamalan yang konsisten, penyuluh diharapkan semakin siap memberikan manfaat bagi umat. (Sto)
